Kamis, 27 Desember 2018

MPQ 2


<iframe src="https://www.fyrebox.com/webgame/Pzpm12Oxn/GjN9BNYdm" allowfullscreen="true" frameborder="0" style="width: 1px; min-width: 100%;" height="400px"  allowTransparency="true" scrolling="no"></iframe>

Kamis, 05 Januari 2017

Tulisan yang Saya Cintai

Sebab tiap perbuatan harus dimulai dengan niat, mari bersama menyebut asma-Nya: "Bismillahirrahmanirrahim...."

Halo, Kawan.
Sebenarnya tidak ada dorongan khusus untuk menggiatkan kembali blog yang telah vakum dua tahun ini. Hanya saja, saya merasa rindu menyapa kawan-kawan pembaca. Pun rindu menulis.

Pada laman kali ini, saya sekadar ingin flashback seputar bagaimana saya bisa mencintai tulisan-tulisan.

Saat masih kecil, ayah saya punya kebiasaan membelikan saya buku-buku cerita usai pulang dinas. Hingga yang saya nanti-nantikan dari kepulangan ayah saya adalah sebuah benda bersampul yang menarik: buku. Sejak kecil saya lumayan suka membaca. Ibu saya bilang, sejak TK saya telah gemar membaca koran.

Beranjak pada masa sekolah dasar, ada kegiatan yang booming pada era itu, yakni menulis buku harian. Teman-teman saya heboh membicarakannya, mereka membawa buku kecil bergambar kartun yang terdapat gembok di salah satu sisi buku itu. Kalau dikaitkan dengan zaman sekarang, seperti smarthphone yang dikunci menggunakan kode maupun pola yang beragam. Hanya si empunya saja yang tahu. Bedanya, buku harian bergembok itu punya kunci gembok yang disimpan di tempat tersembunyi oleh pemilik.

Agar hits juga seperti yang lain, akhirnya saya pun membeli buku harian serupa dengan yang teman-teman saya miliki. Saat saya membacanya hari ini, saya tertawa geli, salah satu kisahnya yaitu pertemuan saya dengan kecoa yang membuat saya trauma sampai hari ini. Isinya memang tidak terlalu penting, tetapi kenangan yang saya rangkum itulah yang membuat tulisan menjadi spesial bagi saya. Saat saya membacanya ulang, saya merasa menjadi tokoh yang saya tuliskan pada masa itu. Saya pun dapat mengetahui detail yang saya lupakan dalam kenangan itu.

Memasuki kelas empat, saya mulai gemar berfantasi ria dengan mengarang. Saya menulisnya dalam sebuah binder yang dapat diisi ulang menggunakan kertas-kertas lucu nan menarik. Cerita yang saya tuliskan umumnya meniru film-film petualangan di televisi, pernah juga saya menulis cerita horror yang saya adaptasi dari cerpen di majalah anak. Ada juga kisah karangan yang pernah saya sadur melalui berita Ponari. Ingat, tidak mengenai anak kecil yang menemukan batu petir yang dipercaya dapat menyembuhkan segala macam penyakit? Hahaha, seru sekali.

Ditambah lagi, saya dipercaya oleh pihak sekolah dalam perlombaan menulis puisi dan sinopsis. Hari ini saya baru menyadari, bahwa kecintaan saya terhadap tulisan tidak dibentuk sebulan-atau bahkan setahun. Namun memang dari kecil orang tua saya telah mengakrabkan saya pada tulisan-tulisan.

Tidak berhenti sampai di sana, saat sekolah menengah pun ada tugas untuk mengarang cerpen. Saat mengumpulkan karya saya pada guru, di saat itulah saya membulatkan tekad bahwa menulis adalah hobi saya. Guru saya menulis begini di bawah tugas saya: Ternyata kamu berbakat juga, ya. Terus menulis, perbaiki orisinalitas cerita.

Orisinalitas? Apa itu orisinalitas?
Saya baru dapat memahaminya saat duduk di bangku sekolah menengah atas, bahwa orisinalitas adalah keaslian sebuah karya. Saya akui, memang tugas cerpen yang pernah saya kumpulkan adalah hasil menonton salah satu serial di televisi.

Saat SMA, saya agak berani mengikuti sayembara tingkat kabupaten, yang mengantarkan saya untuk bergabung di sebuah komunitas literasi di daerah saya. Ya, walau kontribusi saya masih belum maksimal di komunitas tersebut, tetapi saya bangga bahwa daerah saya punya wadah untuk mengembangkan minat literasi-sekaligus minat baca masyarakat. Hal ini terbukti dengan adanya pagelaran buku tiap malam minggu di depan pendopo kabupaten. Baca gratis, silakan. Tertarik membeli, juga telah disediakan. Pun anggota punya inisiatif untuk menerbitkan antologi cerpen dari penulis-penulis fiksi di daerah saya. Menarik, bukan?

Beranjak pada masa kuliah satu tahun di daerah Jawa Tengah. Kota yang saya yakini banyak penggiat sastra di kota itu. Sangkaan saya terbukti, dengan aktifnya kegiatan di pusat toko buku: peluncuran buku, temu-bincang dengan penulis, pelatihan-pelatihan menulis, dan masih banyak lagi. Hal menarik lainnya saya temui saat saya bergabung di lembaga pers mahasiswa di kampus. Penghuninya menarik, dengan beragam pikiran yang unik. Semuanya tentu gemar membaca buku, hingga tumpukan buku di markas bagaikan bukit. Selain senang berdiskusi, penghuninya gemar jalan-jalan, nonton film, dan makan bersama. Kekeluargaannya erat, susah-senang ditanggung bersama. Membuat saya rindu tiap saat.

Saat saya rindu, saya terpacu lagi untuk menulis. Menulis apa saja, sebab termotivasi oleh teman-teman saya yang kini foto dan tulisannya terpampang di koran, keren.

   -Tulisan yang saya cintai, tak ubahnya adalah akumulasi kenangan. 

Alhamdulillah...

Kamis, 25 Desember 2014

Ragam Karakter

Asma Tuhan, akan selamanya agung. Jangan biarkan waktu, juga hal yang kita lakukan sia-sia karena lupa padaNya. Mari kawan, sebelum melakukan pekerjaan ucapkan dalam hati juga lisan :
Bismillahirrahmanirrahim....
(Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

Selamat malam, Kawan.
Seberapa lama kawan menjejak di bumi ini, pasti kawan telah mengenal banyak orang. Entah itu dari keluarga, sekolah, tetangga, teman sejawat, teman les, teman ekstrkurikuler, angkutan umum, kantor, dan masih banyak lagi tempat maupun kejadian dimana kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk megenal lebih banyak orang di kota, negara, bahkan di dunia ini. Bagi kawan, pasti menyenangkan dapat mengenal banyak orang, bukan? Siapa tahu, beberapa orang yang kita kenal nantinya akan menjadi yang spesial dalam hidup kita.

Nah, kawan. Setiap orang yang kita kenal memiliki bergam karakter. Ada yang supel, cerewet, garang, pendiam, dan akan sangat banyak bila karakter manusia disebutkan satu-persatu. Belum lagi kombinasi dari beberapa sifat itu. Kawan, kali ini, saya akan memperkenalkan seorang yang saya kenal. Menurut saya, karakter dari seseorang ini unik.

Sebut saja Syams, saya ambil dari nama belakangnya. Syams berasal dari kata arab yang artinya matahari. Cocok dengan karakternya, seperti matahari yang sepanjang hari bersinar, ceria. Dia orang yang supel. Bukankah orang orang supel itu menyenangkan, jadi apa yang menjadikannya unik?

Sifat supelnya itu, seperti pedang. Mempunyai dua mata sisi yang tajam, satu sisi menyenangkan. Sedangkan satu sisi lain menyebalkan. Untuk mengetahuinya, yuk kawan, simak cerita ini.

Pagi yang cerah, libur sekolah ini tidak ada rencana berlenggang ceria ke tempat-tempat mengagumkan. Aku hanya menonton televisi, sudah rindu dengan tayangan-sekaligus iklan yang tayang. Rindu? Ya, aku anak kos, tidak difasilitasi televisi di tempat kos ku. Di tengah acara, aku teringat sebuah hal, bahwa setahun lalu aku membuat KTP di sekolah. Ah, ya. Setahun lebih aku lupa untuk mengambilnya di kantor kecamatan. Karena aku masih belum paham mengendarai kendaraan bermotor, aku meminta tolong Syams untuk mengantarku.
Sepanjang perjalanan sejauh 6 km, sudah puluhan orang yang disapa oleh Syams. Entah itu tetangga yang kebetulan berjalan, kebetulan bertemu teman yang mengendarai motor juga, kebetulan melihat teman kantor yang sedang berdiri mengecek lapangan, juga banyak kebetulan-kebetulan lain. Baiklah, maklum jika hanya menyapa. Tapi yang membuatku jengkel, Syams sempat berbicara setengah panjang lebar di jalan dengan teman yang ditemuinya itu.
Sampai di kantor kecamatan, hal harusnya bisa ku tebak. Syams menyalami seisi kantor. Syams yang ku yakini kenal dengan salah satu pekerja kantor. Namun, aku bingung sebenarnya Syams kenal atau tidak dengan yang lain. Aku hanya menguntit di belakangnya. Sedangkan semua orang tersenyum bersama Syams, bertanya kabar sebentar. Kemudian bertanya dimana tempat mengambil KTP? Setelah itu pergi.
Nah, untuk menggunakan e-KTP, harus diaktifkan terlebih dahulu menggunakan sidik jari tengah tangan kanan. Selagi menungguku mengurusnya, Syams bertemu kenalannya lagi? Kali ini penduduk sipil, bertanya kabar juga tujuan juga ke kantor kecamatan.
Setengah perjalanan pulang, Syams mampir dulu di rumah temannya. Entah, aku tak peduli apa yang dibicarakan. Yang pasti, hal itu membuatkan lama menunggu.
Aku tidak mengeluh jika pergi bersama Syams, karena paham betul apa yang membuatnya berlama-lama di luar rumah. Yang penting, aku sudah mendapatkan yang aku butuhkan.
***

Kawan, dari sosok Syams dalam cerita itu, kalian dapat membayangkan bagaimana jika berada dalam posisi menjadi teman Syams, juga menjadi tokoh aku. Bagaimapun juga, kita harus melihat semua dengan bijak. Bahwa dengan Syams yang supel dan banyak kawan, siapa tahu suatu saat semua akan mempermudahmu. Jangan merasa kesal.

Baiklah kawan, seberapa unik orang-orang yang telah kawan kenal, kawan tetap harus saling menghargai satu sama lain. Menerima segala perbedaan, seberapa tajampun itu. Tuhan telah menciptakan segala sesuatu agar seimbang. Tidak ada yang sia-sia, tidak ada yang buruk.

Kita wajib bersyukur.


Alhamdulillah....

Minggu, 21 Desember 2014

Desember Berbisnis

Bismillahirrahmanirrahim...

Syukur alhamdulillah. Setelah sekian bulan vakum menulis blog, akhirnya atas kesadaran dalam diri sendiri, mulai (insyaallah) aktif lagi menulis blog. Yeeeay. Kawan sudah rindu-kah? Ah, ya. Walaupun tidak, setidaknya dengan menulis saya dapat memberitahukan pada kawan jika saya sudah amat rindu menyapa kawan. Apa kabar, kawan? Kabar saya amat baik.

Bulan Desember, seusai melewati masa-masa tegang Ujian Akhir Semester I, sekolah saya heboh berkat acara classmeeting. Namun, bukan hal itu yang menarik.

Mata pelajaran MULOK (Muatan Lokal) kelas XII menuntut siswa membuat produk olahan dari hasil laut (Ikan tongkol, cumi, udang, dan lain-lain) untuk kemudian dijual kepada teman-teman sekolah, juga guru. Jika tidak laku? Boleh saja dijual pada keluarga sendiri, masyarakat umum. Sempat terpikir oleh kami akan dijual di sekitar alun-alun atau lampu merah, namun urung. Karena produk yang kami buat SOLD OUT! Puji syukur, alhamdulillah...

Tentang produk kami,
Diproduksi oleh UD. GARA GARA MULOK (Nama 'perusahaan' yang kami bangun berdelapan). Kami mengolah ikan tongkol menjadi kaki naga, bagi masyarakat kota kecil saya, nama itu amat asing. Sehingga, tiap kami menjelaskannya, banyak teman yang dahinya terlipat, tidak mengerti olahan seperti apa itu. Kami tersenyum bangga, setidaknya mereka penasaran, kemudian berminat untuk mencoba sensasinya.
Percobaan pertama, dengan dibantu oleh ibu dari salah satu teman kami, kami membuatnya sedemikan rupa. Mengabaikan resep. Percaya pada intuisi ibu teman kami. Pasrah saja, karena jujur saja, kami tidak berpengalaman untuk memasak. Karena sebuah kesalahan dari salah satu teman kami yang berlebihan menuangkan susu, alhasil olahan kami mirip seperti rasa roti, aroma khas ikan tongkol hilang. Itulah asal mula kami menamai produk kami SWEET DRAGON FOOT. Sebenarnya, kami agak kecewa, namun hal itu menjadi pelajaran mendatang, saat kami membuatnya secara massal.
H-1 sebelum dipasarkan. Bahan-bahan yang dibutuhkan telah disiapkan sejak H-2. Classmeeting memberi keluwesan bagi siswa untuk memilih, apakah hendak masuk sekolah atau tidak. Tidak akan diabsen, bebas. Berhubung kelas saya masuk babak semifinal pertandingan futsal, beberapa anggota kelompok laki-laki kami memilih 'berjuang' demi kelas. Akan membantu jika pertandingan sudah selesai. Baiklah. Tinggallah kami berempat, mencampur adonan, membentuknya seperti paha ayam pada batang, mengukus. Menyelesaikan loga, membuat saus tomat-nanas. Sudah siang, pukul 11. Laki-laki kelompok kami baru datang. Padahal pekerjaan sudah selesai.
Hari besar! Mulai jam 4 pagi sudah bersiap menggoreng kaki naga itu. Sebelumnya, dilumuri dengan putih telur juga tepung roti kasar, berlapis tiga! Trik pasar, agar produk terlihat penuh berisi. Lintas info, kami menjualnya Rp3.500; isi 2 kaki naga. Untuk olahan semacam itu, harganya termasuk murah. Hari itu tepatnya hari Sabtu, kota mungil saya tengah dilanda hujan besar. Anggota yang hadir baru tiga orang. Kemudian, berdatangan yang lain saat jam mulai menunjuk angka 5.30. Awalnya, kami berencana menjualnya pagi, sekitar pukul 7. Namun, diluar perkiraan. Karena banyak kendala, kami baru menjualnya pukul 9.
30 menit kemudian...
SOLD OUT!
Pelanggan mengatakan, bahwa olahan kamj enak!
Kami bangga, dapat menjual 84 bungkus. Jerih payah kami.

Kami tersadar. Pernah lupa akan banyak hal. Kufur nikmat. Membuang-buang sesuatu yang tidak disuka. Makanan, contohnya. Kami baru tahu, bagaimana susah-payahnya seseorang membuat produk dengan harapan konsumen puas dengan apa yang dibelinya. Tuhan, maafkan kami yang lalai.

Alhamdulillah....

Senin, 14 April 2014

Andai Kamu Seperti Mereka


Bismillahirrahmirrahim... 
Sebelumnya, marilah kita bersama-sama mendo'akan kakak-kakak kelas XII yang fokus pada UNAS yang dilaksanakan 14-16 April ini... 

H-2. Hari ini ujian nasional tingkat SMA sedang berlangsung. Selagi menunggui kakak-kakak kelas XII yang mungkin sekarang adem ayem mengerjakan soal-soal UTS, kelas X dan XI diliburkan. Eh, maksud saya dihimbau untuk belajar di rumah masing-masing. Apakah benar, himbauan itu diindahkan? Yang jelas, bagi saya tidak.

H-2, menjelang hari pernikahan tetangga saya. Walau masa bodoh buat kalian, tapi saya menyadari sebuah hal di sana... 

Masih pagi, belum jam tujuh tepat. Adik saya yang masih kelas 1 SD sudah lima belas menit lalu pergi ke sekolah. Sedangkan saya baru selesai mandi. Sambil berdandan ala kadarnya di depan cermin, saya bengong. Sibuk berfikir apa yang akan dilakukan nanti.

“Lung, tolongi lek Mama ye...”(:Lung, bantu-bantu di Lek Mama ya...) logat Madura yang khas, nenekku segera berlalu ketika saya belum menjawabnya.

Saya hanya mengangguk sendiri, kemudian bergegas. Mungkin hanya 15 langkah dari rumah saya. Orang-orang ternyata sudah banyak yang datang. Semuanya perempuan, kebanyakan ibu-ibu rumah tangga yang membawa anak-anak kecilnya. Semuanya sudah menikah. Hanya saya di sana yang ‘bocah’. Mereka sudah kelihatan sibuk dengan pembagian tugasnya masing-masing. Padahal, tak diperintah tak apa. Tapi, mereka sudah seperti punya hubungan batin. Setiap orang di dapur itu, tak ada yang bekerja leha-leha. Bermalas-malasan.

Nenek saya bertugas mencampur bahan-bahan, kebetulan hari ini membuat kulit 'Cungcung' atau nama kerennya 'Vanilla FIlling Cone'. Kemudian, adonan itu dicampur sampai kalis oleh ibu-ibu lain. Masuk tahap selajutnya, ada yang meratakan adonan menggunakan kayu hingga terbentuk persegi panjang berukuran kira-kira 45x30 cm. Setelah itu, ibu-ibu lain yang sedang memegang pisau membaginya lagi menjadi 2x30 cm. Sedangkan saya bertugas membuat bentuk kerucutnya dibantu dengan sebuah benda dari besi yang berbentuk kerucut. Gampang kok, hanya melilitkannya. Setelah bentuknya jadi, disortir ke bagian 'pemolesan', dimana setengah permukaannya dilumuri  telur yang dicampur dengan sedikit pewarna makanan berwarna kuning telur menggunakan kuas, kemudian ditaburi gula pasir.

Sambil memanaskan oven, pekerjaan itu terus diulang-ulang dilakukan secara kompak dengan diselingi obrolan ibu-ibu, entah itu mengenai sinetron yang semalam dilihat, tentang arisan, perabot rumah tangga, maupun candaan ‘dewasa’. Namun, karena sadar keberadaan saya sebagai bocah di sana, mereka cepat-cepat mengakhirinya. -_-

Pekerjaan saya terhenti sejenak. Karena besi kerucut tadi sudah masuk oven semua. Kemudian, saya berfikir sejenak. Mereka dengan senang hati melakukan semuanya. Demi membantu tetangga. Berangkat pagi-pagi, pulang menjelang Dhuzur. Kemudian kembali lagi sorenya. Tak ada imbalan yang diharapkan. Ya, mungkin yang mereka harap hanyalah kehadiran yang lainnya saat mereka punya hajatan di lain waktu. Tak ada unsur paksaan yang mengekang mereka, hanya solidaritas serta kepedulian mereka sebagai tetangga. Sebenarnya, mereka melakukan ini sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, hanya saja, saya baru merasakannya akhir-akhir ini, ketika sudah remaja. Ketika sudah tahu bagaimana membantu, bukannya mengacaukan saat masih kanak-kanak. Tak pernah terfikir, bagaimana jadinya bila mereka tak acuh. Kalang-kabut, bukan?

Entah mengapa tiba-tiba saya teringat sesuatu, tentang salah satu organisasi yang berkedok ekstrakurikuler yang saat ini saya ikuti di sekolah. Andai saja, walau hanya satu atau dua periode masa menjabat, bisa mencontoh etos kerja tetangga-tetangga saya ini.

Padahal, sungguh. Tak ada struktur yang jelas di sana. Entah siapa ketua panitia hajatan tersebut, entah siapa bendaharanya, sekretaris, juga tak dibagi seksi-seksinya. Tapi, apa? Sungguh mengagumkan hasilnya. Semuanya bertanggung jawab. Kue-kue maupun masakannya tak dicela, kalaupun ada, sungguhpun mereka akan saling mengingatkan. Memperbaiki sebelum disuguhkan.

Harapan saya, organisasi yang telah terorganisir di sekolah-sekolah, jangan mau kalah dengan yang tidak jelas panitianya siapa saja! 

Alhamdulillah...

Senin, 23 Desember 2013

Sahabat Jadi Cinta?

Bismillahirmanirrahmanirrahim...

Aku memandang lamat-lamat layar notebook. Mencoba mencari kesenanganku, bersama teman-teman. Hah... Social media. Jujur, kawan. Aku merasa sangat hampa malam ini. Entah mengapa, mungkin rindu teman-teman asliku. Bukan mereka yang bersembunyi di seberang sana, sibuk 'menyukai' status, sibuk komentar sana-sini, sibuk menyapa 'met malem' atau hal yang tidak penting lainnya.

Kawan, aku rindu!!!

Oh, ya. Dari kejadian malam ini, aku menyimpulkan bahwa tak peduli seberapa banyak temanmu di jejaring sosial, tak penting seberapa banyak 'penggemarmu'. Karena semua itu khayal! Yang terpenting, bagaimana kawan bersosialisasi di kehidupan nyata. Makin banyak kawan, makin lancar rezeki. Kok bisa? Ya, bisalah. Bagaimana tidak? Punya banyak koneksi, perlu ini-itu tinggal minta tolong tanpa rasa sungkan, dan lain-lain yang kawan rasakan manfaatnya.


Eits, tapi pernyataanku tadi bukan berarti memanfaatkan teman, loh ya. Hal-hal itu merupakan buah dari persahabatan yang kita jalin bersama teman kita selama ini. Betul?


Katanya kalau berteman itu jangan pilih-pilih. Tapi, kalau teman kita gak baik bagaimana? Kan ada pepatah bilang : Orang yang berteman dengan pedagang parfum, akan wangi juga. Sedangkan yang berteman dengan pedagang kambing, akan bau kambing juga.

Ya... Kalau masalah 'jangan pilih-pilih teman' itu (mungkin) maksudnya dalam berteman, kawan tidak boleh memandang apakah dia orang kaya, miskin, pintar, kurang pintar, tampan, cantik, wajah kurang sedap, atau apalah itu namanya. Namun, dalam urusan perilaku, kita harus selektif. Kita kan tahu, pergaulan berdampak cukup besar dalam bagaimana sikap kita bertindak. Kebanyakan, 'suka ikut-ikut teman', karena mereka berfikir bahwa itulah cara mereka bersenang-senang. Iya kalau kelakuan mereka positif, kalau sampai negatif, kan bisa-bisa berabe (berantem ama babe). Tapi.... Ada tapinya. Jika semisal kawan berfikir tahan godaan, ingin mengajak teman kawan berjalan di jalan yang semestinya, yo monggo... Bagus, semoga malaikat mencatat amal baik kawan.

Wah... Kawan,

Kalau dibahas satu-satu tentang persahabatan, kayaknya gak akan ada habisnya, deh.
Tapi, sesi curhat sajalah, dariku. Hehehe
Kita bersahabat bukan untuk sehari-dua hari. Namun, untuk selamanya.
Aku mendapatkannya dari sebuah film yang aku lupa judulnya. Hehe, tapi itu bagus sekali maknanya. Intinya, carilah sahabat yang sekiranya cocok dengan kita, yang dapat mengerti kita. Jika kawan telah mendapatkannya, pegang erat tangannya, jangan kau lepaskan dikala dia membutuhkanmu. Jangan pernah mengkhianatinya.

Sahabat adalah cinta. Cinta lahir dari persahabatan. Dari rasa nyaman dekat dengannya. Catat : cinta sejati, bukan pacar. Terkadang, seseorang melupakan sahabatnya bila telah punya pacar. Ia sibuk memikirkan pacarnya, lebih senang membalas pesan singkat pacarnya, hingga sahabatnya merasa risih, jadi 'nyamuk'. Untung saja tidak sampai menghisap darah sejoli itu. Hehe...

Nah, kalau sudah putus? Ia sibuk mencari mana sahabatnya? Sibuk bercerita ini-itu tentang si mantan pacar. Sejatinya, sang sahabat yang lebih sibuk! Sibuk mendengar keluhnya. Sejak saat itu, apakah persahabatan akan seindah dahulu?
Sahabat, jika engkau pergi dengan kesenanganmu sendiri (pacar baru) maka kembalilah dengan penyelesaian masalahmu sendiri (mantan pacar). Jangan membawa-bawa aku! Aku tidak pernah tahu antara kau dan dia.

Teringat sebuah film India (yang aku lupa judulnya) atau Dealova yang mengangkat kisah tentang persahabatan adalah cinta. Tapi, kawan. Terkadang persahabatan itu jauh lebih indah dari cinta. Kehilangan sahabat, sama saja seperti kehilangan cinta. Hampa. Si dia yang tahu betul rahasia-rahasia kita, si dia yang selalu lebih heboh apabila sahabatnya jatuh cinta atau berprstasi, dan juga, si dia yang akan dua kali lipat lebih merasakan sakit yang kita alami. Si dia-si dia-dan si dia. Jadi, bagaimana rasanya jika si dia tiba-tiba menghilang dari hidup kita?


Oh, sahabatku. Jika engkau ingin tahu, aku sangat menyayangimu. Jangan pernah berjalan di belakangku atau di depanku. Tapi, berjalanlah di sampingku...


Alhamdulillah....

Rabu, 04 September 2013

Antara Aku, Kau, dan DIA!

Seperti biasa, kawan. Ucapkan "Bismillah" dalam mengawali tulisan.

Siapa yang paling jujur, dapat pahala. Ayo! Jawab.
Semua orang ingin kesempurnaan, bukan?
Siapa saja ingin mendapatkan seorang kekasih hati, bukan?
Dan tiap insan punya keinginan mendapat kekasih yang sempurna...

Hei! Kawan pembaca kenapa cuma angguk-angguk kepala? Bergumam di hati aja, "iya, bener banget!".
Ya, sudah. Gak maksa kok. Dengan penuh ketidak terpaksaan, aku jawab sendiri saja.

YA! Saya mau kekasih yang sempurna itu. Mau! Mau! MAUUU!
Dan pertanyaannya sekarang : Adakah yang dinamakan kekasih yang sempurna?

Sebagian 'punggawa' cinta amatiran berpendapat,
"Tak harus kekasih kita yang sempurna. Namun, bagaimana kita dicintai dan mencintainya dengan sempurna!"
Amazing! Begitu hebatnya remaja sekarang memiliki perasaan suka berlebih pada lawan jenis. Sehingga, mereka banyak memproduksi kata-kata galau dan romantis. Memang bagus. Tapi, jangan sampai terjerat oleh indahnya kekata itu.

Kawan pembaca, ingin kusampaikan sesuatu :

Aku, begitu menginginkan dirimu.
Dan aku juga tahu. Betapa kamu merindukanku.
Tapi, mengapa kau begitu tidak sempurna di mataku?

Bukan, bukan masalah engkau hitam,
atau tidak tinggi,
atau bahkan, satu-dua jerawatmu.
Yang membuat engkau tidak terlalu tampan dan gagah.

Kau, melihatku nanar.
Pergi dengan mengharap cinta pada yang lain.
Engkau kepal kuat jarimu, bergidik "Nantinya kau yang akan menyesal!"

Siapa takut?
Aku akan cari yang lebih sempurna,
lebih kokoh,
lebih tinggi,
lebih tulus,
dan Maha Besar DIA!

Aku sadar, DIA memilihkanku yang terbaik
Dan akan ku lakukan terbaik pula untuk DIA

Di waktu yang tepat, lokasi yang benar, pertemuan akan sempurna
Bersama engkau, engkau yang sejati
Dan dipilih DIA untukku.

Antara aku, kau, dan DIA
DIA yang paling kucinta.
***

Lega, perasaan ini yang kurasa setelah menorehkan satu-dua keluhku. Kawan, intinya adalah seorang pacar, belum tentu jodoh kita. Lelaki yang baik akan mendapat wanita yang baik, dan sebaliknya. Itu hukum Tuhan.
Bolehlah, suka dengan seseorang. Tapi, hendaknya kita tidak terlalu fokus dengan hal itu. Ingat! Syetan akan melakukan apapun agar manusia jadi temannya. Ih, syereeem!
Manusia memang tak ada yang sempurna. Dan kita, tak layak memakai kata 'perfect' untuk mengagumi seseorang. Karena sangat ditekankan, "KESEMPURNAAN HANYALAH MILIK SANG ILAHI".
Maka dari itu, jika menginginkan seorang pendamping hidup yang baik, maka kawan harus melakukan PDKT primer, yaitu pendekatan pada Sang Maha Pemberi Cinta. Karena, hanya DIA yang tahu, kepada siapa tiap individu berjodoh. Dan jodoh, akan membuat cinta kita hidup.

Dan, "Alhamdulillah" karena Allah senantiasa memberi ni'matnya...