Terbit dan Tenggelam
Kamis, 27 Desember 2018
MPQ 2
Kamis, 05 Januari 2017
Tulisan yang Saya Cintai
Kamis, 25 Desember 2014
Ragam Karakter
Minggu, 21 Desember 2014
Desember Berbisnis
Bismillahirrahmanirrahim...
Syukur alhamdulillah. Setelah sekian bulan vakum menulis blog, akhirnya atas kesadaran dalam diri sendiri, mulai (insyaallah) aktif lagi menulis blog. Yeeeay. Kawan sudah rindu-kah? Ah, ya. Walaupun tidak, setidaknya dengan menulis saya dapat memberitahukan pada kawan jika saya sudah amat rindu menyapa kawan. Apa kabar, kawan? Kabar saya amat baik.
Bulan Desember, seusai melewati masa-masa tegang Ujian Akhir Semester I, sekolah saya heboh berkat acara classmeeting. Namun, bukan hal itu yang menarik.
Mata pelajaran MULOK (Muatan Lokal) kelas XII menuntut siswa membuat produk olahan dari hasil laut (Ikan tongkol, cumi, udang, dan lain-lain) untuk kemudian dijual kepada teman-teman sekolah, juga guru. Jika tidak laku? Boleh saja dijual pada keluarga sendiri, masyarakat umum. Sempat terpikir oleh kami akan dijual di sekitar alun-alun atau lampu merah, namun urung. Karena produk yang kami buat SOLD OUT! Puji syukur, alhamdulillah...
Tentang produk kami,
Diproduksi oleh UD. GARA GARA MULOK (Nama 'perusahaan' yang kami bangun berdelapan). Kami mengolah ikan tongkol menjadi kaki naga, bagi masyarakat kota kecil saya, nama itu amat asing. Sehingga, tiap kami menjelaskannya, banyak teman yang dahinya terlipat, tidak mengerti olahan seperti apa itu. Kami tersenyum bangga, setidaknya mereka penasaran, kemudian berminat untuk mencoba sensasinya.
Percobaan pertama, dengan dibantu oleh ibu dari salah satu teman kami, kami membuatnya sedemikan rupa. Mengabaikan resep. Percaya pada intuisi ibu teman kami. Pasrah saja, karena jujur saja, kami tidak berpengalaman untuk memasak. Karena sebuah kesalahan dari salah satu teman kami yang berlebihan menuangkan susu, alhasil olahan kami mirip seperti rasa roti, aroma khas ikan tongkol hilang. Itulah asal mula kami menamai produk kami SWEET DRAGON FOOT. Sebenarnya, kami agak kecewa, namun hal itu menjadi pelajaran mendatang, saat kami membuatnya secara massal.
H-1 sebelum dipasarkan. Bahan-bahan yang dibutuhkan telah disiapkan sejak H-2. Classmeeting memberi keluwesan bagi siswa untuk memilih, apakah hendak masuk sekolah atau tidak. Tidak akan diabsen, bebas. Berhubung kelas saya masuk babak semifinal pertandingan futsal, beberapa anggota kelompok laki-laki kami memilih 'berjuang' demi kelas. Akan membantu jika pertandingan sudah selesai. Baiklah. Tinggallah kami berempat, mencampur adonan, membentuknya seperti paha ayam pada batang, mengukus. Menyelesaikan loga, membuat saus tomat-nanas. Sudah siang, pukul 11. Laki-laki kelompok kami baru datang. Padahal pekerjaan sudah selesai.
Hari besar! Mulai jam 4 pagi sudah bersiap menggoreng kaki naga itu. Sebelumnya, dilumuri dengan putih telur juga tepung roti kasar, berlapis tiga! Trik pasar, agar produk terlihat penuh berisi. Lintas info, kami menjualnya Rp3.500; isi 2 kaki naga. Untuk olahan semacam itu, harganya termasuk murah. Hari itu tepatnya hari Sabtu, kota mungil saya tengah dilanda hujan besar. Anggota yang hadir baru tiga orang. Kemudian, berdatangan yang lain saat jam mulai menunjuk angka 5.30. Awalnya, kami berencana menjualnya pagi, sekitar pukul 7. Namun, diluar perkiraan. Karena banyak kendala, kami baru menjualnya pukul 9.
30 menit kemudian...
SOLD OUT!
Pelanggan mengatakan, bahwa olahan kamj enak!
Kami bangga, dapat menjual 84 bungkus. Jerih payah kami.
Kami tersadar. Pernah lupa akan banyak hal. Kufur nikmat. Membuang-buang sesuatu yang tidak disuka. Makanan, contohnya. Kami baru tahu, bagaimana susah-payahnya seseorang membuat produk dengan harapan konsumen puas dengan apa yang dibelinya. Tuhan, maafkan kami yang lalai.
Alhamdulillah....
Senin, 14 April 2014
Andai Kamu Seperti Mereka
Alhamdulillah...
Senin, 23 Desember 2013
Sahabat Jadi Cinta?
Aku memandang lamat-lamat layar notebook. Mencoba mencari kesenanganku, bersama teman-teman. Hah... Social media. Jujur, kawan. Aku merasa sangat hampa malam ini. Entah mengapa, mungkin rindu teman-teman asliku. Bukan mereka yang bersembunyi di seberang sana, sibuk 'menyukai' status, sibuk komentar sana-sini, sibuk menyapa 'met malem' atau hal yang tidak penting lainnya.
Kawan, aku rindu!!!
Oh, ya. Dari kejadian malam ini, aku menyimpulkan bahwa tak peduli seberapa banyak temanmu di jejaring sosial, tak penting seberapa banyak 'penggemarmu'. Karena semua itu khayal! Yang terpenting, bagaimana kawan bersosialisasi di kehidupan nyata. Makin banyak kawan, makin lancar rezeki. Kok bisa? Ya, bisalah. Bagaimana tidak? Punya banyak koneksi, perlu ini-itu tinggal minta tolong tanpa rasa sungkan, dan lain-lain yang kawan rasakan manfaatnya.
Eits, tapi pernyataanku tadi bukan berarti memanfaatkan teman, loh ya. Hal-hal itu merupakan buah dari persahabatan yang kita jalin bersama teman kita selama ini. Betul?
Katanya kalau berteman itu jangan pilih-pilih. Tapi, kalau teman kita gak baik bagaimana? Kan ada pepatah bilang : Orang yang berteman dengan pedagang parfum, akan wangi juga. Sedangkan yang berteman dengan pedagang kambing, akan bau kambing juga.
Ya... Kalau masalah 'jangan pilih-pilih teman' itu (mungkin) maksudnya dalam berteman, kawan tidak boleh memandang apakah dia orang kaya, miskin, pintar, kurang pintar, tampan, cantik, wajah kurang sedap, atau apalah itu namanya. Namun, dalam urusan perilaku, kita harus selektif. Kita kan tahu, pergaulan berdampak cukup besar dalam bagaimana sikap kita bertindak. Kebanyakan, 'suka ikut-ikut teman', karena mereka berfikir bahwa itulah cara mereka bersenang-senang. Iya kalau kelakuan mereka positif, kalau sampai negatif, kan bisa-bisa berabe (berantem ama babe). Tapi.... Ada tapinya. Jika semisal kawan berfikir tahan godaan, ingin mengajak teman kawan berjalan di jalan yang semestinya, yo monggo... Bagus, semoga malaikat mencatat amal baik kawan.
Wah... Kawan,
Kalau dibahas satu-satu tentang persahabatan, kayaknya gak akan ada habisnya, deh.
Tapi, sesi curhat sajalah, dariku. Hehehe
Kita bersahabat bukan untuk sehari-dua hari. Namun, untuk selamanya.
Aku mendapatkannya dari sebuah film yang aku lupa judulnya. Hehe, tapi itu bagus sekali maknanya. Intinya, carilah sahabat yang sekiranya cocok dengan kita, yang dapat mengerti kita. Jika kawan telah mendapatkannya, pegang erat tangannya, jangan kau lepaskan dikala dia membutuhkanmu. Jangan pernah mengkhianatinya.
Sahabat adalah cinta. Cinta lahir dari persahabatan. Dari rasa nyaman dekat dengannya. Catat : cinta sejati, bukan pacar. Terkadang, seseorang melupakan sahabatnya bila telah punya pacar. Ia sibuk memikirkan pacarnya, lebih senang membalas pesan singkat pacarnya, hingga sahabatnya merasa risih, jadi 'nyamuk'. Untung saja tidak sampai menghisap darah sejoli itu. Hehe...
Nah, kalau sudah putus? Ia sibuk mencari mana sahabatnya? Sibuk bercerita ini-itu tentang si mantan pacar. Sejatinya, sang sahabat yang lebih sibuk! Sibuk mendengar keluhnya. Sejak saat itu, apakah persahabatan akan seindah dahulu?
Sahabat, jika engkau pergi dengan kesenanganmu sendiri (pacar baru) maka kembalilah dengan penyelesaian masalahmu sendiri (mantan pacar). Jangan membawa-bawa aku! Aku tidak pernah tahu antara kau dan dia.
Teringat sebuah film India (yang aku lupa judulnya) atau Dealova yang mengangkat kisah tentang persahabatan adalah cinta. Tapi, kawan. Terkadang persahabatan itu jauh lebih indah dari cinta. Kehilangan sahabat, sama saja seperti kehilangan cinta. Hampa. Si dia yang tahu betul rahasia-rahasia kita, si dia yang selalu lebih heboh apabila sahabatnya jatuh cinta atau berprstasi, dan juga, si dia yang akan dua kali lipat lebih merasakan sakit yang kita alami. Si dia-si dia-dan si dia. Jadi, bagaimana rasanya jika si dia tiba-tiba menghilang dari hidup kita?
Oh, sahabatku. Jika engkau ingin tahu, aku sangat menyayangimu. Jangan pernah berjalan di belakangku atau di depanku. Tapi, berjalanlah di sampingku...
Alhamdulillah....
Rabu, 04 September 2013
Antara Aku, Kau, dan DIA!
Siapa yang paling jujur, dapat pahala. Ayo! Jawab.
Semua orang ingin kesempurnaan, bukan?
Siapa saja ingin mendapatkan seorang kekasih hati, bukan?
Dan tiap insan punya keinginan mendapat kekasih yang sempurna...
Hei! Kawan pembaca kenapa cuma angguk-angguk kepala? Bergumam di hati aja, "iya, bener banget!".
Ya, sudah. Gak maksa kok. Dengan penuh ketidak terpaksaan, aku jawab sendiri saja.
YA! Saya mau kekasih yang sempurna itu. Mau! Mau! MAUUU!
Dan pertanyaannya sekarang : Adakah yang dinamakan kekasih yang sempurna?
Sebagian 'punggawa' cinta amatiran berpendapat,
"Tak harus kekasih kita yang sempurna. Namun, bagaimana kita dicintai dan mencintainya dengan sempurna!"
Amazing! Begitu hebatnya remaja sekarang memiliki perasaan suka berlebih pada lawan jenis. Sehingga, mereka banyak memproduksi kata-kata galau dan romantis. Memang bagus. Tapi, jangan sampai terjerat oleh indahnya kekata itu.
Kawan pembaca, ingin kusampaikan sesuatu :
Aku, begitu menginginkan dirimu.
Dan aku juga tahu. Betapa kamu merindukanku.
Tapi, mengapa kau begitu tidak sempurna di mataku?
Bukan, bukan masalah engkau hitam,
atau tidak tinggi,
atau bahkan, satu-dua jerawatmu.
Yang membuat engkau tidak terlalu tampan dan gagah.
Kau, melihatku nanar.
Pergi dengan mengharap cinta pada yang lain.
Engkau kepal kuat jarimu, bergidik "Nantinya kau yang akan menyesal!"
Siapa takut?
Aku akan cari yang lebih sempurna,
lebih kokoh,
lebih tinggi,
lebih tulus,
dan Maha Besar DIA!
Aku sadar, DIA memilihkanku yang terbaik
Dan akan ku lakukan terbaik pula untuk DIA
Di waktu yang tepat, lokasi yang benar, pertemuan akan sempurna
Bersama engkau, engkau yang sejati
Dan dipilih DIA untukku.
Antara aku, kau, dan DIA
DIA yang paling kucinta.
***
Lega, perasaan ini yang kurasa setelah menorehkan satu-dua keluhku. Kawan, intinya adalah seorang pacar, belum tentu jodoh kita. Lelaki yang baik akan mendapat wanita yang baik, dan sebaliknya. Itu hukum Tuhan.
Bolehlah, suka dengan seseorang. Tapi, hendaknya kita tidak terlalu fokus dengan hal itu. Ingat! Syetan akan melakukan apapun agar manusia jadi temannya. Ih, syereeem!
Manusia memang tak ada yang sempurna. Dan kita, tak layak memakai kata 'perfect' untuk mengagumi seseorang. Karena sangat ditekankan, "KESEMPURNAAN HANYALAH MILIK SANG ILAHI".
Maka dari itu, jika menginginkan seorang pendamping hidup yang baik, maka kawan harus melakukan PDKT primer, yaitu pendekatan pada Sang Maha Pemberi Cinta. Karena, hanya DIA yang tahu, kepada siapa tiap individu berjodoh. Dan jodoh, akan membuat cinta kita hidup.
Dan, "Alhamdulillah" karena Allah senantiasa memberi ni'matnya...