Asma Tuhan, akan selamanya agung. Jangan biarkan waktu, juga
hal yang kita lakukan sia-sia karena lupa padaNya. Mari kawan, sebelum
melakukan pekerjaan ucapkan dalam hati juga lisan :
Bismillahirrahmanirrahim....
(Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang)
Selamat malam, Kawan.
Seberapa lama kawan menjejak di bumi ini, pasti kawan telah mengenal
banyak orang. Entah itu dari keluarga, sekolah, tetangga, teman sejawat, teman
les, teman ekstrkurikuler, angkutan umum, kantor, dan masih banyak lagi tempat
maupun kejadian dimana kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk megenal lebih
banyak orang di kota, negara, bahkan di dunia ini. Bagi kawan, pasti
menyenangkan dapat mengenal banyak orang, bukan? Siapa tahu, beberapa orang
yang kita kenal nantinya akan menjadi yang spesial dalam hidup kita.
Nah, kawan. Setiap orang yang kita kenal memiliki bergam
karakter. Ada yang supel, cerewet, garang, pendiam, dan akan sangat banyak bila
karakter manusia disebutkan satu-persatu. Belum lagi kombinasi dari beberapa
sifat itu. Kawan, kali ini, saya akan memperkenalkan seorang yang saya kenal.
Menurut saya, karakter dari seseorang ini unik.
Sebut saja Syams, saya ambil dari nama belakangnya. Syams
berasal dari kata arab yang artinya matahari. Cocok dengan karakternya,
seperti matahari yang sepanjang hari bersinar, ceria. Dia orang yang supel. Bukankah
orang orang supel itu menyenangkan, jadi apa yang menjadikannya unik?
Sifat supelnya itu, seperti pedang. Mempunyai dua mata sisi
yang tajam, satu sisi menyenangkan. Sedangkan satu sisi lain menyebalkan.
Untuk mengetahuinya, yuk kawan, simak cerita ini.
Pagi yang cerah, libur sekolah ini tidak ada rencana
berlenggang ceria ke tempat-tempat mengagumkan. Aku hanya menonton televisi,
sudah rindu dengan tayangan-sekaligus iklan yang tayang. Rindu? Ya, aku
anak kos, tidak difasilitasi televisi di tempat kos ku. Di tengah acara, aku
teringat sebuah hal, bahwa setahun lalu aku membuat KTP di sekolah. Ah, ya.
Setahun lebih aku lupa untuk mengambilnya di kantor kecamatan. Karena aku masih
belum paham mengendarai kendaraan bermotor, aku meminta tolong Syams untuk
mengantarku.
Sepanjang perjalanan sejauh 6 km, sudah puluhan orang yang
disapa oleh Syams. Entah itu tetangga yang kebetulan berjalan, kebetulan
bertemu teman yang mengendarai motor juga, kebetulan melihat teman kantor yang
sedang berdiri mengecek lapangan, juga banyak kebetulan-kebetulan lain.
Baiklah, maklum jika hanya menyapa. Tapi yang membuatku jengkel, Syams sempat
berbicara setengah panjang lebar di jalan dengan teman yang ditemuinya itu.
Sampai di kantor kecamatan, hal harusnya bisa ku tebak.
Syams menyalami seisi kantor. Syams yang ku yakini kenal dengan salah satu
pekerja kantor. Namun, aku bingung sebenarnya Syams kenal atau tidak dengan
yang lain. Aku hanya menguntit di belakangnya. Sedangkan semua orang tersenyum
bersama Syams, bertanya kabar sebentar. Kemudian bertanya dimana tempat
mengambil KTP? Setelah itu pergi.
Nah, untuk menggunakan e-KTP, harus diaktifkan terlebih
dahulu menggunakan sidik jari tengah tangan kanan. Selagi menungguku
mengurusnya, Syams bertemu kenalannya lagi? Kali ini penduduk sipil, bertanya
kabar juga tujuan juga ke kantor kecamatan.
Setengah perjalanan pulang, Syams mampir dulu di rumah
temannya. Entah, aku tak peduli apa yang dibicarakan. Yang pasti, hal itu
membuatkan lama menunggu.
Aku tidak mengeluh jika pergi bersama Syams, karena paham
betul apa yang membuatnya berlama-lama di luar rumah. Yang penting, aku sudah
mendapatkan yang aku butuhkan.
***
Kawan, dari sosok Syams dalam cerita itu, kalian dapat
membayangkan bagaimana jika berada dalam posisi menjadi teman Syams,
juga menjadi tokoh aku. Bagaimapun juga, kita harus melihat semua dengan
bijak. Bahwa dengan Syams yang supel dan banyak kawan, siapa tahu suatu saat
semua akan mempermudahmu. Jangan merasa kesal.
Baiklah kawan, seberapa unik orang-orang yang telah
kawan kenal, kawan tetap harus saling menghargai satu sama lain. Menerima
segala perbedaan, seberapa tajampun itu. Tuhan telah menciptakan segala sesuatu
agar seimbang. Tidak ada yang sia-sia, tidak ada yang buruk.
Kita wajib bersyukur.
Alhamdulillah....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar