Kamis, 25 Desember 2014

Ragam Karakter

Asma Tuhan, akan selamanya agung. Jangan biarkan waktu, juga hal yang kita lakukan sia-sia karena lupa padaNya. Mari kawan, sebelum melakukan pekerjaan ucapkan dalam hati juga lisan :
Bismillahirrahmanirrahim....
(Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

Selamat malam, Kawan.
Seberapa lama kawan menjejak di bumi ini, pasti kawan telah mengenal banyak orang. Entah itu dari keluarga, sekolah, tetangga, teman sejawat, teman les, teman ekstrkurikuler, angkutan umum, kantor, dan masih banyak lagi tempat maupun kejadian dimana kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk megenal lebih banyak orang di kota, negara, bahkan di dunia ini. Bagi kawan, pasti menyenangkan dapat mengenal banyak orang, bukan? Siapa tahu, beberapa orang yang kita kenal nantinya akan menjadi yang spesial dalam hidup kita.

Nah, kawan. Setiap orang yang kita kenal memiliki bergam karakter. Ada yang supel, cerewet, garang, pendiam, dan akan sangat banyak bila karakter manusia disebutkan satu-persatu. Belum lagi kombinasi dari beberapa sifat itu. Kawan, kali ini, saya akan memperkenalkan seorang yang saya kenal. Menurut saya, karakter dari seseorang ini unik.

Sebut saja Syams, saya ambil dari nama belakangnya. Syams berasal dari kata arab yang artinya matahari. Cocok dengan karakternya, seperti matahari yang sepanjang hari bersinar, ceria. Dia orang yang supel. Bukankah orang orang supel itu menyenangkan, jadi apa yang menjadikannya unik?

Sifat supelnya itu, seperti pedang. Mempunyai dua mata sisi yang tajam, satu sisi menyenangkan. Sedangkan satu sisi lain menyebalkan. Untuk mengetahuinya, yuk kawan, simak cerita ini.

Pagi yang cerah, libur sekolah ini tidak ada rencana berlenggang ceria ke tempat-tempat mengagumkan. Aku hanya menonton televisi, sudah rindu dengan tayangan-sekaligus iklan yang tayang. Rindu? Ya, aku anak kos, tidak difasilitasi televisi di tempat kos ku. Di tengah acara, aku teringat sebuah hal, bahwa setahun lalu aku membuat KTP di sekolah. Ah, ya. Setahun lebih aku lupa untuk mengambilnya di kantor kecamatan. Karena aku masih belum paham mengendarai kendaraan bermotor, aku meminta tolong Syams untuk mengantarku.
Sepanjang perjalanan sejauh 6 km, sudah puluhan orang yang disapa oleh Syams. Entah itu tetangga yang kebetulan berjalan, kebetulan bertemu teman yang mengendarai motor juga, kebetulan melihat teman kantor yang sedang berdiri mengecek lapangan, juga banyak kebetulan-kebetulan lain. Baiklah, maklum jika hanya menyapa. Tapi yang membuatku jengkel, Syams sempat berbicara setengah panjang lebar di jalan dengan teman yang ditemuinya itu.
Sampai di kantor kecamatan, hal harusnya bisa ku tebak. Syams menyalami seisi kantor. Syams yang ku yakini kenal dengan salah satu pekerja kantor. Namun, aku bingung sebenarnya Syams kenal atau tidak dengan yang lain. Aku hanya menguntit di belakangnya. Sedangkan semua orang tersenyum bersama Syams, bertanya kabar sebentar. Kemudian bertanya dimana tempat mengambil KTP? Setelah itu pergi.
Nah, untuk menggunakan e-KTP, harus diaktifkan terlebih dahulu menggunakan sidik jari tengah tangan kanan. Selagi menungguku mengurusnya, Syams bertemu kenalannya lagi? Kali ini penduduk sipil, bertanya kabar juga tujuan juga ke kantor kecamatan.
Setengah perjalanan pulang, Syams mampir dulu di rumah temannya. Entah, aku tak peduli apa yang dibicarakan. Yang pasti, hal itu membuatkan lama menunggu.
Aku tidak mengeluh jika pergi bersama Syams, karena paham betul apa yang membuatnya berlama-lama di luar rumah. Yang penting, aku sudah mendapatkan yang aku butuhkan.
***

Kawan, dari sosok Syams dalam cerita itu, kalian dapat membayangkan bagaimana jika berada dalam posisi menjadi teman Syams, juga menjadi tokoh aku. Bagaimapun juga, kita harus melihat semua dengan bijak. Bahwa dengan Syams yang supel dan banyak kawan, siapa tahu suatu saat semua akan mempermudahmu. Jangan merasa kesal.

Baiklah kawan, seberapa unik orang-orang yang telah kawan kenal, kawan tetap harus saling menghargai satu sama lain. Menerima segala perbedaan, seberapa tajampun itu. Tuhan telah menciptakan segala sesuatu agar seimbang. Tidak ada yang sia-sia, tidak ada yang buruk.

Kita wajib bersyukur.


Alhamdulillah....

Minggu, 21 Desember 2014

Desember Berbisnis

Bismillahirrahmanirrahim...

Syukur alhamdulillah. Setelah sekian bulan vakum menulis blog, akhirnya atas kesadaran dalam diri sendiri, mulai (insyaallah) aktif lagi menulis blog. Yeeeay. Kawan sudah rindu-kah? Ah, ya. Walaupun tidak, setidaknya dengan menulis saya dapat memberitahukan pada kawan jika saya sudah amat rindu menyapa kawan. Apa kabar, kawan? Kabar saya amat baik.

Bulan Desember, seusai melewati masa-masa tegang Ujian Akhir Semester I, sekolah saya heboh berkat acara classmeeting. Namun, bukan hal itu yang menarik.

Mata pelajaran MULOK (Muatan Lokal) kelas XII menuntut siswa membuat produk olahan dari hasil laut (Ikan tongkol, cumi, udang, dan lain-lain) untuk kemudian dijual kepada teman-teman sekolah, juga guru. Jika tidak laku? Boleh saja dijual pada keluarga sendiri, masyarakat umum. Sempat terpikir oleh kami akan dijual di sekitar alun-alun atau lampu merah, namun urung. Karena produk yang kami buat SOLD OUT! Puji syukur, alhamdulillah...

Tentang produk kami,
Diproduksi oleh UD. GARA GARA MULOK (Nama 'perusahaan' yang kami bangun berdelapan). Kami mengolah ikan tongkol menjadi kaki naga, bagi masyarakat kota kecil saya, nama itu amat asing. Sehingga, tiap kami menjelaskannya, banyak teman yang dahinya terlipat, tidak mengerti olahan seperti apa itu. Kami tersenyum bangga, setidaknya mereka penasaran, kemudian berminat untuk mencoba sensasinya.
Percobaan pertama, dengan dibantu oleh ibu dari salah satu teman kami, kami membuatnya sedemikan rupa. Mengabaikan resep. Percaya pada intuisi ibu teman kami. Pasrah saja, karena jujur saja, kami tidak berpengalaman untuk memasak. Karena sebuah kesalahan dari salah satu teman kami yang berlebihan menuangkan susu, alhasil olahan kami mirip seperti rasa roti, aroma khas ikan tongkol hilang. Itulah asal mula kami menamai produk kami SWEET DRAGON FOOT. Sebenarnya, kami agak kecewa, namun hal itu menjadi pelajaran mendatang, saat kami membuatnya secara massal.
H-1 sebelum dipasarkan. Bahan-bahan yang dibutuhkan telah disiapkan sejak H-2. Classmeeting memberi keluwesan bagi siswa untuk memilih, apakah hendak masuk sekolah atau tidak. Tidak akan diabsen, bebas. Berhubung kelas saya masuk babak semifinal pertandingan futsal, beberapa anggota kelompok laki-laki kami memilih 'berjuang' demi kelas. Akan membantu jika pertandingan sudah selesai. Baiklah. Tinggallah kami berempat, mencampur adonan, membentuknya seperti paha ayam pada batang, mengukus. Menyelesaikan loga, membuat saus tomat-nanas. Sudah siang, pukul 11. Laki-laki kelompok kami baru datang. Padahal pekerjaan sudah selesai.
Hari besar! Mulai jam 4 pagi sudah bersiap menggoreng kaki naga itu. Sebelumnya, dilumuri dengan putih telur juga tepung roti kasar, berlapis tiga! Trik pasar, agar produk terlihat penuh berisi. Lintas info, kami menjualnya Rp3.500; isi 2 kaki naga. Untuk olahan semacam itu, harganya termasuk murah. Hari itu tepatnya hari Sabtu, kota mungil saya tengah dilanda hujan besar. Anggota yang hadir baru tiga orang. Kemudian, berdatangan yang lain saat jam mulai menunjuk angka 5.30. Awalnya, kami berencana menjualnya pagi, sekitar pukul 7. Namun, diluar perkiraan. Karena banyak kendala, kami baru menjualnya pukul 9.
30 menit kemudian...
SOLD OUT!
Pelanggan mengatakan, bahwa olahan kamj enak!
Kami bangga, dapat menjual 84 bungkus. Jerih payah kami.

Kami tersadar. Pernah lupa akan banyak hal. Kufur nikmat. Membuang-buang sesuatu yang tidak disuka. Makanan, contohnya. Kami baru tahu, bagaimana susah-payahnya seseorang membuat produk dengan harapan konsumen puas dengan apa yang dibelinya. Tuhan, maafkan kami yang lalai.

Alhamdulillah....