Halo, Kawan.
Sebenarnya tidak ada dorongan khusus untuk menggiatkan kembali blog yang telah vakum dua tahun ini. Hanya saja, saya merasa rindu menyapa kawan-kawan pembaca. Pun rindu menulis.
Pada laman kali ini, saya sekadar ingin flashback seputar bagaimana saya bisa mencintai tulisan-tulisan.
Saat masih kecil, ayah saya punya kebiasaan membelikan saya buku-buku cerita usai pulang dinas. Hingga yang saya nanti-nantikan dari kepulangan ayah saya adalah sebuah benda bersampul yang menarik: buku. Sejak kecil saya lumayan suka membaca. Ibu saya bilang, sejak TK saya telah gemar membaca koran.
Beranjak pada masa sekolah dasar, ada kegiatan yang booming pada era itu, yakni menulis buku harian. Teman-teman saya heboh membicarakannya, mereka membawa buku kecil bergambar kartun yang terdapat gembok di salah satu sisi buku itu. Kalau dikaitkan dengan zaman sekarang, seperti smarthphone yang dikunci menggunakan kode maupun pola yang beragam. Hanya si empunya saja yang tahu. Bedanya, buku harian bergembok itu punya kunci gembok yang disimpan di tempat tersembunyi oleh pemilik.
Agar hits juga seperti yang lain, akhirnya saya pun membeli buku harian serupa dengan yang teman-teman saya miliki. Saat saya membacanya hari ini, saya tertawa geli, salah satu kisahnya yaitu pertemuan saya dengan kecoa yang membuat saya trauma sampai hari ini. Isinya memang tidak terlalu penting, tetapi kenangan yang saya rangkum itulah yang membuat tulisan menjadi spesial bagi saya. Saat saya membacanya ulang, saya merasa menjadi tokoh yang saya tuliskan pada masa itu. Saya pun dapat mengetahui detail yang saya lupakan dalam kenangan itu.
Memasuki kelas empat, saya mulai gemar berfantasi ria dengan mengarang. Saya menulisnya dalam sebuah binder yang dapat diisi ulang menggunakan kertas-kertas lucu nan menarik. Cerita yang saya tuliskan umumnya meniru film-film petualangan di televisi, pernah juga saya menulis cerita horror yang saya adaptasi dari cerpen di majalah anak. Ada juga kisah karangan yang pernah saya sadur melalui berita Ponari. Ingat, tidak mengenai anak kecil yang menemukan batu petir yang dipercaya dapat menyembuhkan segala macam penyakit? Hahaha, seru sekali.
Ditambah lagi, saya dipercaya oleh pihak sekolah dalam perlombaan menulis puisi dan sinopsis. Hari ini saya baru menyadari, bahwa kecintaan saya terhadap tulisan tidak dibentuk sebulan-atau bahkan setahun. Namun memang dari kecil orang tua saya telah mengakrabkan saya pada tulisan-tulisan.
Tidak berhenti sampai di sana, saat sekolah menengah pun ada tugas untuk mengarang cerpen. Saat mengumpulkan karya saya pada guru, di saat itulah saya membulatkan tekad bahwa menulis adalah hobi saya. Guru saya menulis begini di bawah tugas saya: Ternyata kamu berbakat juga, ya. Terus menulis, perbaiki orisinalitas cerita.
Orisinalitas? Apa itu orisinalitas?
Saya baru dapat memahaminya saat duduk di bangku sekolah menengah atas, bahwa orisinalitas adalah keaslian sebuah karya. Saya akui, memang tugas cerpen yang pernah saya kumpulkan adalah hasil menonton salah satu serial di televisi.
Saat SMA, saya agak berani mengikuti sayembara tingkat kabupaten, yang mengantarkan saya untuk bergabung di sebuah komunitas literasi di daerah saya. Ya, walau kontribusi saya masih belum maksimal di komunitas tersebut, tetapi saya bangga bahwa daerah saya punya wadah untuk mengembangkan minat literasi-sekaligus minat baca masyarakat. Hal ini terbukti dengan adanya pagelaran buku tiap malam minggu di depan pendopo kabupaten. Baca gratis, silakan. Tertarik membeli, juga telah disediakan. Pun anggota punya inisiatif untuk menerbitkan antologi cerpen dari penulis-penulis fiksi di daerah saya. Menarik, bukan?
Beranjak pada masa kuliah satu tahun di daerah Jawa Tengah. Kota yang saya yakini banyak penggiat sastra di kota itu. Sangkaan saya terbukti, dengan aktifnya kegiatan di pusat toko buku: peluncuran buku, temu-bincang dengan penulis, pelatihan-pelatihan menulis, dan masih banyak lagi. Hal menarik lainnya saya temui saat saya bergabung di lembaga pers mahasiswa di kampus. Penghuninya menarik, dengan beragam pikiran yang unik. Semuanya tentu gemar membaca buku, hingga tumpukan buku di markas bagaikan bukit. Selain senang berdiskusi, penghuninya gemar jalan-jalan, nonton film, dan makan bersama. Kekeluargaannya erat, susah-senang ditanggung bersama. Membuat saya rindu tiap saat.
Saat saya rindu, saya terpacu lagi untuk menulis. Menulis apa saja, sebab termotivasi oleh teman-teman saya yang kini foto dan tulisannya terpampang di koran, keren.
-Tulisan yang saya cintai, tak ubahnya adalah akumulasi kenangan.
Alhamdulillah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar