Bismillahirrahmirrahim...
Sebelumnya, marilah kita bersama-sama mendo'akan kakak-kakak kelas XII yang fokus pada UNAS yang dilaksanakan 14-16 April ini...
H-2. Hari ini ujian nasional tingkat SMA
sedang berlangsung. Selagi menunggui kakak-kakak kelas XII yang mungkin
sekarang adem ayem mengerjakan soal-soal UTS, kelas X dan XI diliburkan. Eh, maksud
saya dihimbau untuk belajar di rumah masing-masing. Apakah benar, himbauan itu
diindahkan? Yang jelas, bagi saya tidak.
H-2, menjelang hari pernikahan tetangga
saya. Walau masa bodoh buat kalian, tapi saya menyadari sebuah hal di sana...
Masih pagi, belum jam tujuh tepat. Adik
saya yang masih kelas 1 SD sudah lima belas menit lalu pergi ke sekolah.
Sedangkan saya baru selesai mandi. Sambil berdandan ala kadarnya di depan
cermin, saya bengong. Sibuk berfikir apa yang akan dilakukan nanti.
“Lung, tolongi lek Mama ye...”(:Lung, bantu-bantu di Lek Mama ya...) logat
Madura yang khas, nenekku segera berlalu ketika saya belum menjawabnya.
Saya hanya mengangguk sendiri, kemudian bergegas. Mungkin hanya 15 langkah dari
rumah saya. Orang-orang ternyata sudah banyak yang datang. Semuanya perempuan,
kebanyakan ibu-ibu rumah tangga yang membawa anak-anak kecilnya. Semuanya sudah
menikah. Hanya saya di sana yang ‘bocah’. Mereka sudah kelihatan sibuk dengan
pembagian tugasnya masing-masing. Padahal, tak diperintah tak apa. Tapi, mereka
sudah seperti punya hubungan batin. Setiap orang di dapur itu, tak ada yang
bekerja leha-leha. Bermalas-malasan.
Nenek saya bertugas mencampur bahan-bahan,
kebetulan hari ini membuat kulit 'Cungcung' atau nama kerennya 'Vanilla FIlling Cone'. Kemudian,
adonan itu dicampur sampai kalis oleh ibu-ibu lain. Masuk tahap selajutnya, ada yang meratakan
adonan menggunakan kayu hingga terbentuk persegi panjang berukuran kira-kira 45x30 cm. Setelah itu, ibu-ibu lain yang sedang memegang pisau membaginya lagi menjadi 2x30 cm. Sedangkan saya bertugas membuat bentuk kerucutnya dibantu dengan sebuah
benda dari besi yang berbentuk kerucut. Gampang kok, hanya melilitkannya. Setelah bentuknya jadi, disortir ke bagian 'pemolesan', dimana setengah
permukaannya dilumuri telur yang dicampur
dengan sedikit pewarna makanan berwarna kuning telur menggunakan kuas, kemudian
ditaburi gula pasir.
Sambil memanaskan oven, pekerjaan itu
terus diulang-ulang dilakukan secara kompak dengan diselingi obrolan ibu-ibu,
entah itu mengenai sinetron yang semalam dilihat, tentang arisan, perabot rumah
tangga, maupun candaan ‘dewasa’. Namun, karena sadar keberadaan saya sebagai bocah
di sana, mereka cepat-cepat mengakhirinya. -_-
Pekerjaan saya terhenti sejenak. Karena besi kerucut tadi sudah masuk oven semua. Kemudian, saya berfikir sejenak. Mereka dengan senang hati melakukan
semuanya. Demi membantu tetangga. Berangkat pagi-pagi, pulang menjelang Dhuzur.
Kemudian kembali lagi sorenya. Tak ada imbalan yang diharapkan. Ya, mungkin
yang mereka harap hanyalah kehadiran yang lainnya saat mereka punya hajatan di
lain waktu. Tak ada unsur paksaan yang mengekang mereka, hanya solidaritas
serta kepedulian mereka sebagai tetangga. Sebenarnya, mereka melakukan ini
sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, hanya saja, saya baru merasakannya
akhir-akhir ini, ketika sudah remaja. Ketika sudah tahu bagaimana membantu,
bukannya mengacaukan saat masih kanak-kanak. Tak pernah terfikir,
bagaimana jadinya bila mereka tak acuh. Kalang-kabut, bukan?
Entah mengapa tiba-tiba saya teringat
sesuatu, tentang salah satu organisasi yang berkedok ekstrakurikuler yang saat ini saya ikuti di
sekolah. Andai saja, walau hanya satu atau dua periode masa menjabat, bisa
mencontoh etos kerja tetangga-tetangga saya ini.
Padahal, sungguh. Tak ada struktur yang
jelas di sana. Entah siapa ketua panitia hajatan tersebut, entah siapa
bendaharanya, sekretaris, juga tak dibagi seksi-seksinya. Tapi, apa? Sungguh mengagumkan
hasilnya. Semuanya bertanggung jawab. Kue-kue maupun masakannya tak dicela,
kalaupun ada, sungguhpun mereka akan saling mengingatkan. Memperbaiki sebelum disuguhkan.
Alhamdulillah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar