Senin, 14 April 2014

Andai Kamu Seperti Mereka


Bismillahirrahmirrahim... 
Sebelumnya, marilah kita bersama-sama mendo'akan kakak-kakak kelas XII yang fokus pada UNAS yang dilaksanakan 14-16 April ini... 

H-2. Hari ini ujian nasional tingkat SMA sedang berlangsung. Selagi menunggui kakak-kakak kelas XII yang mungkin sekarang adem ayem mengerjakan soal-soal UTS, kelas X dan XI diliburkan. Eh, maksud saya dihimbau untuk belajar di rumah masing-masing. Apakah benar, himbauan itu diindahkan? Yang jelas, bagi saya tidak.

H-2, menjelang hari pernikahan tetangga saya. Walau masa bodoh buat kalian, tapi saya menyadari sebuah hal di sana... 

Masih pagi, belum jam tujuh tepat. Adik saya yang masih kelas 1 SD sudah lima belas menit lalu pergi ke sekolah. Sedangkan saya baru selesai mandi. Sambil berdandan ala kadarnya di depan cermin, saya bengong. Sibuk berfikir apa yang akan dilakukan nanti.

“Lung, tolongi lek Mama ye...”(:Lung, bantu-bantu di Lek Mama ya...) logat Madura yang khas, nenekku segera berlalu ketika saya belum menjawabnya.

Saya hanya mengangguk sendiri, kemudian bergegas. Mungkin hanya 15 langkah dari rumah saya. Orang-orang ternyata sudah banyak yang datang. Semuanya perempuan, kebanyakan ibu-ibu rumah tangga yang membawa anak-anak kecilnya. Semuanya sudah menikah. Hanya saya di sana yang ‘bocah’. Mereka sudah kelihatan sibuk dengan pembagian tugasnya masing-masing. Padahal, tak diperintah tak apa. Tapi, mereka sudah seperti punya hubungan batin. Setiap orang di dapur itu, tak ada yang bekerja leha-leha. Bermalas-malasan.

Nenek saya bertugas mencampur bahan-bahan, kebetulan hari ini membuat kulit 'Cungcung' atau nama kerennya 'Vanilla FIlling Cone'. Kemudian, adonan itu dicampur sampai kalis oleh ibu-ibu lain. Masuk tahap selajutnya, ada yang meratakan adonan menggunakan kayu hingga terbentuk persegi panjang berukuran kira-kira 45x30 cm. Setelah itu, ibu-ibu lain yang sedang memegang pisau membaginya lagi menjadi 2x30 cm. Sedangkan saya bertugas membuat bentuk kerucutnya dibantu dengan sebuah benda dari besi yang berbentuk kerucut. Gampang kok, hanya melilitkannya. Setelah bentuknya jadi, disortir ke bagian 'pemolesan', dimana setengah permukaannya dilumuri  telur yang dicampur dengan sedikit pewarna makanan berwarna kuning telur menggunakan kuas, kemudian ditaburi gula pasir.

Sambil memanaskan oven, pekerjaan itu terus diulang-ulang dilakukan secara kompak dengan diselingi obrolan ibu-ibu, entah itu mengenai sinetron yang semalam dilihat, tentang arisan, perabot rumah tangga, maupun candaan ‘dewasa’. Namun, karena sadar keberadaan saya sebagai bocah di sana, mereka cepat-cepat mengakhirinya. -_-

Pekerjaan saya terhenti sejenak. Karena besi kerucut tadi sudah masuk oven semua. Kemudian, saya berfikir sejenak. Mereka dengan senang hati melakukan semuanya. Demi membantu tetangga. Berangkat pagi-pagi, pulang menjelang Dhuzur. Kemudian kembali lagi sorenya. Tak ada imbalan yang diharapkan. Ya, mungkin yang mereka harap hanyalah kehadiran yang lainnya saat mereka punya hajatan di lain waktu. Tak ada unsur paksaan yang mengekang mereka, hanya solidaritas serta kepedulian mereka sebagai tetangga. Sebenarnya, mereka melakukan ini sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, hanya saja, saya baru merasakannya akhir-akhir ini, ketika sudah remaja. Ketika sudah tahu bagaimana membantu, bukannya mengacaukan saat masih kanak-kanak. Tak pernah terfikir, bagaimana jadinya bila mereka tak acuh. Kalang-kabut, bukan?

Entah mengapa tiba-tiba saya teringat sesuatu, tentang salah satu organisasi yang berkedok ekstrakurikuler yang saat ini saya ikuti di sekolah. Andai saja, walau hanya satu atau dua periode masa menjabat, bisa mencontoh etos kerja tetangga-tetangga saya ini.

Padahal, sungguh. Tak ada struktur yang jelas di sana. Entah siapa ketua panitia hajatan tersebut, entah siapa bendaharanya, sekretaris, juga tak dibagi seksi-seksinya. Tapi, apa? Sungguh mengagumkan hasilnya. Semuanya bertanggung jawab. Kue-kue maupun masakannya tak dicela, kalaupun ada, sungguhpun mereka akan saling mengingatkan. Memperbaiki sebelum disuguhkan.

Harapan saya, organisasi yang telah terorganisir di sekolah-sekolah, jangan mau kalah dengan yang tidak jelas panitianya siapa saja! 

Alhamdulillah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar